#Kems : Eksotisnya “Barih Kala” di Pedalaman Padang Tiji, Aceh, Indonesia

Padang Tiji, Aceh, Indonesia. Merupakan sebuah daerah yang berdekatan dengan kota Sigli ini memiliki beberapa spot wisata tersembunyi yang sangat cantik. Lokasi wisata tersebut tidak bisa dikunjungi secara langsung, melainkan harus ada teman atau warga desa yang harus kita kenal atau minta pertolongan untuk diajak kemari.

Perjalanan menuju kemari tidak terbilang biasa, karena memang memasuki medan yang lumayan cukup menantang. Diawali dari melewati sungai yang sedang kering yang dipenuhi dengan bebatuan pecah belah yang ada disini. Jalanan pun tidak beraspal, masih tanah kering berkerikil kecil-kecil dan tajam. Dibutuhkan kesehatan fisik kendaraan apabila masuk ke areal ini. Lokasi wisata ini masih dibilang hidden karena masuk kepelosok dalam dari desa pertama kali kami masuk tadi.

Sebenarnya ada jalan lain untuk menuju kesini, namun Adi yang merupakan seorang teman yang berada disana mengatakan ada jalan lain yang lebih dekat menuju spot tersebut. Namun jalur yang harus kami lalui harus melewati sebuah gua yang dijaga oleh dua ekor ular phyton yang sudah lama berada disana. Konon dari penuturan warga sekitar, ular-ular tersebut memang sering berada disana bahkan hampir setiap hari menjaga mulut goa tersebut.

Jalur ini sangat ekstrim, mengingat lokasi yang berdekatan dengan gua yang dijaga oleh ular tersebut ditambah lagi dengan tanah yang berada di perbukitan itu gembur dan licin sehingga sangat riskan untuk kita lewati karena jurang yang menjulang ke bawah langsung terlihat dari sisi atas gua tadi. Untuk itu kami harus lebih ekstra hati-hati melewati jalur yang satu ini.

Ditengah perjalanan saat menuruni dinding tanah gembur ini, salah satu dari kami menginjak sarang Jangak (binatang penyengat sejenis tawon dalam bahasa aceh). Mulailah kericuhan terjadi, satu persatu mulai di sengat oleh binatang tersebut. Ditambah lagi posisi pijakan kami tidak mendukung untuk berlari secepat tenaga, jadilah kami hanya pasrah dan berpindah posisi secara perlahan agar tidak terjatuh ke jurang yang dibawahnya terdapat batu-batu yang besar.

Pertarungan sengit oleh binatang sengat itupun akhirnya berakhir dengan kemenangan oleh kami. Mengapa? Jangak merupakan binatang penyengat yang habis menyerang langsung K.O. So, kami masih aman walaupun terdapat beberapa bentolan bekas di sengat oleh binatang tersebut.

Lelah sangat saat setelah melewati itu semua. Setelah sampai di lokasi yang kami tuju, terbayarlah sudah semua perjuangan saat melewati beberapa rintangan tadi. Lokasi ini memang tidak memiliki lebar aliran air yang luas, namun pemandangan yang ada disini membuat nyaman siapa saja yang mengunjunginya. Sangat eksotis memang, dinding tebing yang berbentuk ukiran dan dialiri air sungai yang terbentang panjang membuat seakan-akan ini bukan di Aceh.

Barih Kala, merupakan destinasi terbaik setelah yang pertama yang ada di sini diberinama “Lingkok Kuwieng”. Jalur yang kita lalui seharusnya bisa juga sama dengan jalur kita menuju kesana. Namun dengan arahan teman yang menunjuki jalur berbeda, kami hanya mengikutinya saja.

 


Note : Perjalanan ini hanya bisa dilewati dengan berjalan kaki, untuk kendaraan kita bisa memarkirkan tidak jauh dari spot yang kita datangi ini, karena harus menanjaki bukit yang dibawahnya merupakan gua-gua yang luas dan menurut saya pribadi, apabila ingin menginap disini haruslah hati-hati karena disini banyak sarang ular seperti cobra. Jagalah alam sekitar dengan tidak membuang sampah sembarangan.



Regards,

@kemal13

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *